Cerita Sex Tusuk Konde – Part 11

Cerita Sex Tusuk Konde – Part 11by adminon.Cerita Sex Tusuk Konde – Part 11Tusuk Konde – Part 11 Noktah Hitam Dikala Senja Berbeda dengan yg terjadi disetiap pagi dan sore harinya yg selalu dihiasi oleh kemacetan yg parah, siang itu lalu lintas di jalan Sudirman cukup lancar. Diantara ratusan kendaraan yg melintasi jalan diarea yg merupakan jantung perekonomian dan pusat bisnis di ibu kota itu, sebuah mobil sedan […]

multixnxx- Hikaru Kirameki Hikaru Kirameki enjoys s-9 (1) multixnxx- Hikaru Kirameki Hikaru Kirameki enjoys s-9 multixnxx- Hikaru Kirameki Hikaru Kirameki enjoys s-10 (1)Tusuk Konde – Part 11

Noktah Hitam Dikala Senja

Berbeda dengan yg terjadi disetiap pagi dan sore harinya yg selalu dihiasi oleh kemacetan yg parah, siang itu lalu lintas di jalan Sudirman cukup lancar. Diantara ratusan kendaraan yg melintasi jalan diarea yg merupakan jantung perekonomian dan pusat bisnis di ibu kota itu, sebuah mobil sedan berwarna biru gelap melaju santai, yg dikendarai oleh seorang pemuda berperawakan atletis dengan wajah yg membuat wanita enggan untuk perpaling saat melihat senyumnya. Serasi sekali dengan wanita cantik disampingnya yg saat itu jemari lentiknya dengan iseng menggaruk-garuk lembut tonjolan diselangkangan sang pemuda yg masih terbungkus celana blue jeans. Mereka adalah Bimo dan Astrid, yg saat itu sedang menuju kekampusnya.

” Ih..iseng aja tuh tangan.. Masih belum puas? ” tegur Bimo, sambil pandangannya tetap tertuju pada lalu-lintas didepannya. Yang ditegur hanya tersenyum, jemari yg sebelumnya hanya menggaruk-garuk lembut, kini mulai meremasi tonjolan yg terbungkus celana jeans itu.

” hi..hi..hi..mulai mengembang nih..jadi gede sekarang .Ngaceng ya?” goda Astrid, saat dirasakannya benda yg berada dalam remasannya itu mulai menegang, hingga menyesaki celana jeans yg membalutnya.

” Gimana enggak bangun, orang dari tadi itu jari enggak bisa diem..” jawab Bimo sambil melirik sejenak kearah jemari lentik yg kini mulai memijit-mijit basokanya.

E..eh.. gila kamu As mobilku kacanya enggak riben lhokeliatan dari luar tau.. kejut Bimo saat tangan Astrid tiba-tiba membuka reseleting celana jeansnya. Alih-alih menghentikan aksinya, justru gadis itu malahan membuka kancing celana Bimo, dan dengan sekali tarikan pada celana dalamnya membuat batang yg telah ereksi itu mengacung keluar dari sarangnya.

Yangjangan dong yang..pliiiissssskeliatan dari luar tuh.. yang.. jangaaaahhh.. larang Bimo, yg akhirnya ucapannya itu berhenti seiring dengan mulut Astrid yg mencaplok batang kontolnya. Berganti dengan desahan nikmat yg dirasakan dari lembutnya kuluman mulut Astrid yg mulai bergerak turun naik secara berirama.

Slluurrfffslluuurrrfffslluuuurrff.. suara khas kuluman mulut Astrid pada batang kontolnya bagaikan irama yg indah, yg membuatnya terbuai dalam alunan birahi, dan mulai sedikit menepiskan rasa was-was akan aksi mesum yg dilakukannya dikeramaian publik seperti itu.

Laju kecepatan mobil yg dikendarainya mulai sedikit dikurangi, dengan mata yg terlihat sedikit sayu dan mulut yg sesekali mendesah, diliriknya sesaat bagaimana kekasihnya itu melumat dengan rakus batang jakarnya, sementara kepalanya tampak bergerak turun naik secara berirama.

Tepat disamping kanan, sebuah minibus mengiringi mobil sedan itu dengan laju kecepatan yg sama, betapa malunya Bimo saat dilihatnya beberapa penumpang menyadari dengan apa yg mereka perbuat didalam mobil itu.

Sial, As..kita jadi tontonan panik Bimo, yg langsung mengenakan topi yg diambilnya dari laci mobil.

Biarin aja yangitung-itung uji nyali..hi..hi..hi.. ujar Astrid, untuk kemudian kembali melanjutkan aksinya itu.

Mobil minibus disampingnya akhirnya lebih dulu melintas meninggalkan kedua pemuda yg masih melakukan aksi nekat itu, yg membuat Bimo bisa sedikit bernafas lebih lega sambil masih menikmati aksi blow job astrid yg kini mulai memainkan lidahnya, menggelitik batang kontol Bimo didalam mulutnya.

Kelegaan Bimo tak berlangsung lama, setelah disampingnya melintas iring-iringan kendaraan. melihat dari t-shirt dan atribut yg dikenakan oleh rombongan itu, sepertinya adalah massa dari sebuah partai politik yg akan melakukan kampanye. Nafasnya seperti terhenti disaat mobil dengan bak terbuka yg dipenuhi oleh massa yg berteriak-teriak dengan yel-yel memprovokasi itu tepat berada disampingnya secara beriringan.

Tiba-tiba yel-yel yg mereka kumandangkan terhenti, disaat salah seorang diantaranya berteriak dan menunjuk kearah Bimo

Woiigile, elu liat noh Ada orang lagi disepong teriaknya, serentak semua orang yg ada diatas mobil itu menatap kearahnya. beberapa orang tertawa, sebagian justru seolah memberi semangat, dan sisanya hanya terbengong. Salah seorang dari mereka bahkan mengeluarkan handphonenya untuk merekam adegan itu, yg membuat Bimo semakin panik.

Wah, ini sih cari penyakit ujar Bimo, seraya mengalihkan mobilnya ke jalur cepat dan ngacir dengan kecepatan penuh meninggalkan iring-iringan itu.

Mobil mereka kini berbelok arah , melintasi jalur yg tak terlalu ramai oleh lalu lintas. Bimo kembali menurunkan kecepatan laju mobilnya, sambil konsentrasinya kembali untuk menikmati lembutnya kuluman Astrid pada batang jakarnya.

Aaaahhhhterus yangasik nih uuuhhh.. gumam Bimo sambil terus mengemudikan mobilnya, sementara mulutnya setengah terbuka mengekspresikan rasa nikmat yg menjalar keseluruh tubuhnya.

Tiba-tiba Astrid melirik kearah wajah Bimo, seraya kepalanya yg bergerak turun naik semakin dipercepat temponya, hingga menimbulkan bunyi berkecipakan yg riuh, yg membuat pertahanan Bimo akhirnya jebol. Dipinggirkannya mobil yg dikendarainya ditepi jalan untuk berhenti sejenak. Kedua tangan yg sebelumnya digunakan untuk memegang kemudi, kini beralih menjambak rambut Astrid.

Aaauuuugghhhhhh..aku keluar yang.zzzz..uuuhhhh lenguh Bimo, sambil tangannya menekan kepala Astrid keselangkangannya, sehingga dirasakan Astrid bagaimana ujung jakar Bimo serasa menohok tenggorokannya dengan kasar.

Crootttcrroootttcrrooottt semprotan air mani Bimo langsung tertampung didalam mulut kekasihnya itu, diikuti dengan beberapa kali hentakan bokong Bimo seiring keluarnya sperma dari lubang penisnya.

Dengan mulut penuh sperma, Astrid kembali bangkit dari posisi menunduknya. Deposit sperma yg tertampung masih ditahan mengisi rongga-rongga mulutnya, ditatapnya wajah Bimo sambil berkumur-kumur dengan cairan kental itu, kemudian mengglogok memainkan dengan tenggorokannya, atau dibuka mulutnya tepat didepan wajah Bimo, seolah ingin menunjukan cairan putih yg masih terkumpul didalam mulutnya itu, sambil lidahnya dimain-mainkannya. Sebuah show yg menjijikan bila diterimanya dengan akal sehat sebetulnya, tapi tidak dimata Bimo, baginya yg dilakukan kekasihnya itu adalah aksi yg sungguh membuat birahinya mendesir, sebuah aksi binal yg menggetarkan jiwanya, dan mengantarnya kealam hayal. Hingga akhirnya glektandas seluruh isi didalam mulut Astrid, masuk kedalam perutnya, yg diikuti dengan matanya yg terpejam, seolah begitu menikmati dengan apa yg baru saja ditelannya. Jakun Bimo ikut bergerak seperti orang yg sedang menelan saat Astrid menyudahi aksi terakhirnya itu, hingga keterkesimaannya pecah oleh pagutan mulut Astrid yg menymbat bibirnya, dirasakannya bagaimana lidah gadis itu mengelitik dan mencari-cari didalam rongga mulutnya, masih tercium tajamnya aroma sperma dari mulut kekasihnya itu.

******

Kamu bisa aja ya..bikin aku terpukau belajar dari mana tuh? tanya Bimo, sambil mengemudikan mobilnya

Yang mana..? tanya Astrid, yg berada disampingnya sambil menyisir rambutnya yg sempat berantakan oleh jambakan Bimo tadi.

Itu, yg mainin air mani aku dimulut kamu … pake dikumur-kumur segala lagi jorok ih, kamu sambung Bimo, pandangannya masih pada lalu lintas didepannya.

Ah, cuma liat di internet aja disitus-situs begituan.. Kenapa, enggak suka..? Lain kali gak usah pakai yg begituan ya? ujarnya tersenyum.

Siapa yg bilang gak suka? tergila-gila aku beib jawab Bimo, sebuah jawaban yg sudah diperkirakan oleh Astrid, saat dia melihat bagaimana reaksi kekasihnya tadi yg begitu terpana dengan aksi gila-gilaan yg diperagakannya.

” Katanya jorok? Berarti lain kali enggak usah aja lah..” goda Astrid

” Justru yg jorok-jorok itu yg bikin asik…” ujar Bimo, sambil melirik sesaat kearah kekasihnya itu.

Beberpa saat kemudian mereka tiba ditempat yg dituju, sebuah kampus dikawasan Jakarta barat tempat mereka kuliah.

*******

Kelas telah dimulai siang itu, dan hingga saat itu pula Atrid tak juga melihat batang hidung Vera. Hatinya mulai bertanya, Apakah yg terjadi dengan anak itu? sudah sedemikian ciutnya kah nyali yg dimilikinya sehingga dia tak berani memunculkan diri, atau justru sebaliknya, dia sedang menyusun rencana lanjutan untuk menyingkirkannya, batin Astrid, sambil sesekali pandangannya menengok kesegala arah didalam ruangan itu, atau menengok keluar jendela dan pintu kelas, namun apa yg dicarinya tak juga menampakan diri.

*******

Tanjung karang, Lampung.

Dari sebuah Rumah bernuansa etnik dengan halaman terhampar luas didepannya, yg dibeberapa sudutnya tertanam beberapa pepohonan besar yg memberikan kesan teduh saat berada diarea rumah itu, berpadu dengan keindahan beberapa tanaman hias dan rumput gajah yg menjalari halamannya. Dari sudut sebelah kanan, terdapat kandang besar yg terbuat dari ram-raman besi yg mengurung beberapa unggas dari berbagai jenis dengan bulu-bulunya yg indah, dan dibawahnya terhampar kolam yg didisain secara alami, sehingga menimbulkan kesan yg natural, bak sebuah telaga dengan mata air alamnya.

Dari sebuah pendopo yg terdapat dibagian terluar bangunan beretnik jawa itu, berbaring malas pada sebuah restbanch kayu jati seorang gadis cantik yg mengenakan celana pendek dan t-shirt tanpa lengan, dialah Vera, yg baru beberapa jam lalu tiba dirumah itu, setelah siang hari tadi dirinya berangkat dari rumahnya di Jakarta.

Pada sebuah kursi goyang, duduk seorang perempuan tua berumur sekitar 70an tahun dengan kacamata plus melekat dimatanya yg mulai lamur oleh usia.

Pokoknya.. aku mau memberi perhitungan kepada perek itu, bagaimanapun caranya ujar Vera dengan penuh emosi.

Apa tidak sebaiknya kau laporkan saja kepada polisi..biar mereka yg menyelesaikan semua urusan itu.. saran perempuan tua itu, sambil tangannya sibuk menyulam pada kain yg dikencangkan pada alat pembidang yg berbentuk bundar.

Tidak.. Eyang, justru aku tidak ingin kalau polisi mengetahui semua kejadian ini..

Memangnya mengapa? Apa yg sesungguhnya terjadi? sepertinya masih ada yg kamu sembunyikan.. coba kamu ceritakan semuanya pada Eyang, dan jangan ada yg kamu tutup-tutupi.., barangkali perempuan tua ini bisa membantu ujar perempuan tua itu sambil tetap menelusupkan jarum sulam pada kain yg terbentang bundar ditangan kirinya.

Dengan ragu akhirnya gadis yg adalah cucunya itu menceritakan seluruh kejadian di Vila itu padanya.

Vera..Vera Eyang sudah berkali-kali menasehati kamu kamu itu masih muda, cantik, pintar apalagi yg kurang pada dirimu sayang.. kamu rubahlah semua sifat-sifat burukmu itu.. jadilah kamu sebagai gadis yg manis, yg anggun, lemah lembut.. Kalau kamu hidup dengan cara seperti ini terus, mau jadi apa kamu Eyang sayang sama kamu Vera.. terang perempuan tua itu, yg kali ini telah bangkit dari kursi yg didudukinya, sekaligus meletakan pada dudukan kursi perlengkapan sulam yg ditekuni sebelumnya.

Ah, Eyang.. sama saja seperti Papa dan Mama.. selalu itu yg mereka omongin, selalu menyalahkan aku, tapi gak pernah memberikan perhatian padaku, mereka selalu sibuk sendiri dengan urusan mereka sendiri, dan akan memarahiku habis-bahisan saat yg aku lakukan tak sesuai dengan apa yg diinginkannya.. mereka tak pernah membimbing aku, cuma bisa menyalahkanaku jadi sebel.. curhat Vera, yg membuat perempuan tua itu tertunduk lesu, seraya kembali menghempaskan tubuh renta itu pada kursi goyangnya.

Hmmmm(menarik nafas panjang) Eyang sudah berkali-kali menasehati Joko, ayahmu itu.. tapi dia terlalu keras kepala, Eyang sudah hafal dengan perangai anak itu, tapi dia anak baik dan Eyang juga tau betapa sayangnya dia padamu, aku bisa melihat itu dimatanya.. namun dia juga tidak bisa menterjemahkan rasa sayangnya itu kepada orang yg disayanginya, itu kesalahannya.. sehingga orang yg disayanginya itu merasa kalau dirinya tak diperhatikan.. itu yg terjadi pada masa mudanya dulu, sehingga anak itu beberapa kali gagal dalam menjalin hubungan asmara, sebelum akhirnya kami menjodohkannya dengan ibumu tapi percayalah Vera, papamu itu begitu menyayangimu..sebagaimana juga Eyang menyayangimu.. terang perempuan tua itu, sambil mata tuanya menatap lurus kehalaman.

Tapi Mama juga begitu koq dia cuma sibuk sendiri, katanya arisan ini lah, arisan itu lah, pertemuan ini, seminar iniah, bosen aku.. Dan itu dari dulu, semenjak aku masih SD.. sempat aku berpikir, mungkin aku ini anak pembantu, karna aku justru lebih dekat dengan Mbok Lastri, dan semenjak kematian Mbok Lastri, aku seperti orang yg kehilangan pegangan, aku mulai akrab dengan rokok, lalu minuman keras, ganja, dan semakin lama semakin jauh aku terperosok, hingga saat ini aku mulai mengenal heroin, dan aku tidak bisa jauh dari benda-benda itu.. kini air mata gadis itu mulai menetes, terus mengalir membentuk sungai kecil pada pipinya yg bermuara pada restbanch kayu jati tempat membaringkan tubuhnya.

Untuk yg kedua kalinya perempuan itu bangkit dari kursi yg didudukinya, menghampiri cucunya yg tengah dirundung kesedihan merenungkan nasib yg dideritanya. Tangan tuanya mulai membelai rambut cucunya itu, seraya dipeluknya gadis cantik itu, yg kini mulai menangis sesengukan dalam dekapan dada siperempuan tua.

Maafkan Eyang ya sayang seharusnya dulu Eyang hadir disaat kamu kehilangan mbok Lastri.. karna Eyang pun terlalu bodoh untuk mengetahui itu semua.. Eyangmu ini kurang peka terhadap apa yg menimpa dirimu dulu Mulai sekarang, wanita tua yg sudah bau tanah ini akan selalu menjagamu..akan melindungimu dari apapun yg akan menimpamu.. biar jiwa tua ini yg menjadi taruhan.. janji perempuan itu, sambil tangannya membelai lembut rambut cucunya yg masih menenggelamkan wajahnya didadanya. Perempuan tua yg selama ini memang cukup dekat dengan Vera. Pada neneknya itulah selama ini Vera sering berkeluh kesah, dibandingkan dengan kedua orang tuanya yg dianggap begitu jauh dari hatinya, yg hanya mampu memberikan fasilitas mewah dan uang, namun tak bisa memberikan hati yg diharapkan gadis itu, yg semenjak dulu sudah begitu haus oleh sentuhan hati dari kedua orang tuanya itu, namun tak kunjung jua didapatkan.

Tiba-tiba wanita tua itu terdiam, berpikir sejenak.

Siapa gadis yg kau katakan hendak membunuhmu itu ? tanyanya, yg membuat Vera segera melepaskan diri dari pelukan sang nenek.

Namanya Astrid sepertinya dia memiliki ilmu hitam, atau apalah istilahnya itu, akupun tak tau pasti jawab Vera, sambil menyeka air mata yg membasahi wajah dan pipinya.

Bagaimana kamu tau..?

Ya iya lah Eyang itu tubuh temanku yg begitu besar, cuma diangkatnya dengan satu tangan..seperti ini nih terang Vera, sambil memperagakan apa yg dilihatnya.

Lalu dilemparkannya kearah aku, kayak ngelempar kardus aja Apa mungkin orang biasa bisa melakukan itu dan yg lebih gilanya, caranya dia membunuh itu sadis.. ih, gak sanggup aku menceritakannya.. dan kalau saja aku tidak cepat-cepat kabur, entahlah.. aku tidak bisa membayangkan apa yg bakal terjadi..

Perempuan tua itu merenung sejenak, disandarkan belakang kepalanya pada tiang pendopo, mata tuanya terpejam sejenak dibalik kacamata plus yg dikenakannya, seraya menarik nafas panjang.

Besok malam kita ke Ujung kulon, kita temui Abah Entub semoga paranormal itu mampu menangani masalah-masalah seperti ini.. ujar perempuan itu sambil matanya tetap terpejam, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri.

Kamu punya photo anak itu? biasanya Abah Entub memerlukannya.. tanya perempuan tua itu, kali ini tatapannya kembali tertuju pada cucunya itu.

Mmmm kalau itu sih , bisa aku dapatkan dari photo di facebooknya.. jawab Vera, setelah dirinya berpikir sejenak.

Pokoknya, aku ingin perek itu mampus dihadapanku akan kusuruh dia mencium kakiku..dan kuinjak batang lehernya sampai dia mampus sesumbar Vera, dengan bengisnya.

Cukup!! bentak perempuan tua itu, seolah tak senang dengan sikap arogan cucunya.

Apa-apaan kamu ini.. Bicara apa kamu? Kamu harus kendalikan emosi kamu itu.. kamu harus mulai belajar untuk mengendalikan hawa nafsumu sikapmu itu kelak akan menjadi boomerang yg dapat membuatmu celaka kalau kau tidak segera merubahnya paham kamu..!! omel perempuan tua itu, yg hanya ditanggapi dengan wajah cemberut oleh Vera sambil sesekali bersungut-sungut.

Heh..ingat ya.., yg akan kita lakukan hanya untuk membela diri, agar kamu tidak lagi diganggu oleh gadis itu.. tak ada pembalasan dendam disini.. itupun karna kau tidak mau melibatkan polisi, seandainya bisa, Eyang lebih senang kalau polisi yg mengurus masalah seperti ini.. Dan kamu juga harus ingat, bahwa yg terlebih dulu memulai adalah kamu, bukan gadis itu…” sambungnya, dengan nada tinggi.

Iya deh yangma-ap, tapi jangan lapor polisi lho yang.. ujar Vera, namun raut wajah yg ditunjukannya sama sekali tidak mengekspresikan kata maaf yg dikatakannya, yg membuat sang nenek hanya menggeleng-geleng melihat tingkah cucunya itu.

Perempuan tua itu kembali melunak, sambil kembali membelai rambut cucunya itu.

Vera Dalam banyak hal, kamu itu sangat mirip dengan Eyang itu juga yang dikatakan Eyang kakungmu dulu.. terang wanita tua itu, kini pandangannya dialihkan pada photo seorang pria dengan seragam kebesaran perwira Angkatan-Darat dengan dua bintang menghias dipundaknya, yg terpampang gagah pada dinding pendopo.

Almarhum Eyang kakungmu pernah bilang padaku, bahwa wajahmu sangat mirip Eyang waktu muda dulu.. Namun aku melihatnya bukan hanya sekedar wajah kita saja yg mirip, aku bahkan melihat sifat dan watakmu juga sangat mirip denganku di saat muda dulu..keras kepala dan selalu ingin menang sendiri dan itu yg justru menjadi boomerang bagi diriku, sehingga aku tak ingin cucuku mewarisi sifat itu.. si tua ini sudah begitu banyak merasakan pahit getirnya kehidupan didunia ini Vera dan itu semua menjadi pelajaran yg sangat berharga untuk Eyangwalau kadang terasa sesak dada ini bila mengingatnya..

Kini wajah tua itu tersenyum, ditatapnya photo pria berseragam tentara itu dengan penuh kebanggaan.

Lihat laki-laki itu Verakelak kalau kau punya suami, carilah orang yg seperti dia dialah obor bagi hidupku, yg selalu menerangi dalam gelapkudan mengangkatku dari lembah kehancuran dan keterpurukan, yg memberikan banyak pelajaran bagiku bangaimana arti hidup.. bagaimana cara menyayangi dan mencintai.. Cintalah yg membuat kami bertahan..dan cinta jugalah yg membuatnya rela untuk menerjang bahaya sekalipun sejurus kemudian perempuan tua itu kembali tertunduk seraya melepas kacamatanya sambil menarik nafas panjang, ingatannya kembali pada Joko, anak sulungnya, sekaligus ayah Vera, ada ganjalan besar dalam hati perempuan tua itu cinta yg selalu diajarkannya pada anak sulungnya semenjak kecil itu, ternyata tidak bisa diterapkannya pada cucunya. Dari sela-sela matanya menetes cairan bening membasahi wajah keriputnya.

Joko anakku, Mengapa kau nak..? gumamnya pelan.

Perempuan itu itu kembali terdiam sambil menyandarkan kepalanya, seraya dipejamkan mata yg telah basah oleh air matanya itu. pikirannya menerawang pada kejadian-kejadian masa lalunya, kejadian-kejadian yg masih terekam jelas didalam benaknya. Dalam pejamnya, kejadian-kejadian itu seolah seperti dilihatnya dalam layar lebar bioskop, dan dirinya saat itu sebagai penonton dari film yg diperankan oleh dirinya sendiri. Layar lebar itu kini menampilkan wajah-wajah orang yg pernah hadir dalam hidupnya, satu persatu wajah itu tertayang silih berganti bagai sebuah slide show, hingga terpampang satu wajah yg seperti menohok jantung dan jiwanya, wajah perempuan cantik berwajah indo dengan senyumnya yg menawan. Mata tua yg terpejam itu tiba-tiba terbuka, mendelik lebar seperti melihat hantu disiang bolong, bibirnya bergetar, bergumam lirih menyebutkan suatu kalimat.

Romlah.maapin gua rom.. ucapnya pelan, yg membuat gadis muda disampingnya terheran dengan apa yg diucapkannya.

Romlah? Siapa itu Eyang? tanya Vera, sambil memicingkan matanya.

Ah..mmm..enggak..bukan siapa-siapa..Eyang hanya ngelantur jawabnya gugup.

Ayo, sudah sore tuh.. mandi dulu sana.. anak gadis sudah hampir mahgrib begini masih belum mandi..jorok ah.. saran perempuan tua itu, untuk sekedar mengalihkan perhatian cucunya dari misteri yg terpendam didalam benak perempuan tua itu, sebuah misteri yg hanya dirinya sendiri yg tau, bahkan sampai akhir hayat suaminyapun tak pernah diberitahukannya, misteri yg mengganjal dihatinya, yg bagaikan noktah hitam yg memberkas diusia senjanya itu.

Diupuk barat mentari tinggal sebaris, sebelum kelak akhirnya tenggelam bersama senja, diiringi oleh suara burung hantu yg bernyanyi dari balik ram-raman sangkar besi, yg seolah menyambut datangnya malam yg baru.

Bersambung….

Author: 

Related Posts