Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 15

Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 15by adminon.Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 15The Bastian’s Holiday – Part 15 Chapter II Act III FIRST BLOOD By : Marucil Melllyyy… “Kamu lagi ngapain disini….?” Seruku terkejut karena mengetahui Melly ada didalam kamarku. “Ehhh Kaaak…..” Mendengar seruan dariku Melly langsung salah tingkah ia langsung menutup layar laptopku dengan sebuah kertas. Rupanya suara desahan yang membuatku terbangun berasal dari film porno […]

tumblr_nw5iogi6cb1uwy710o1_1280 tumblr_nw5iogi6cb1uwy710o4_500 tumblr_nw5iogi6cb1uwy710o9_1280The Bastian’s Holiday – Part 15

Chapter II
Act III
FIRST BLOOD
By : Marucil

Melllyyy…

“Kamu lagi ngapain disini….?” Seruku terkejut karena mengetahui Melly ada didalam kamarku.

“Ehhh Kaaak…..”

Mendengar seruan dariku Melly langsung salah tingkah ia langsung menutup layar laptopku dengan sebuah kertas. Rupanya suara desahan yang membuatku terbangun berasal dari film porno yang di tonton oleh Melly. Aku begitu terkejut mengetahuinya, pertama aku terkejut mengtahui ia ada dalam kamarku, dan kedua aku tak sangka ia menonton sesuatu yang seharusnya belum boleh ia tonton.

“Kamu ngapain disini, terus kamu tadi nonton apa tadi di Laptopku?” Tanyaku seraya bangkit dari kasur dan segera menghampirinya.

“Ahhhhh, maaaf Kaaa, Melly tadi cuma numpang ngerjain tugas ko ook” jawabnya sedikit panik dan terbata.

“Ngerjain tugas apanya? Lalu ini apa?” Kataku sambil me Maximaze palyer video yang ia gunakan untuk menonton film porno dilaptopku.

“Ehhhhh, maaaf kaaaak” jawabnya sedikit tertunduk.

“Terus kamu kenapa masuk kekamar orang gak pake izin?” Tanyaku dengan nada sedikit tinggi.

“Tadi Melly udah bangunin Kak Bastian, tapi kakak gak bangun bangun, yah jadi Melly pake aja laptopnya. Maaf yaah kak Melly lancang”

“Aduuhh Mel Mell.”

Beberapa Saat Sebelumnya

Sepulang sekolah sekitar pukul setengah dua siang, Melly langsung berlari menuju kamarnya. Ia nampak diburu oleh sesuatu. Rupanya ia ingin segera mengerjakan tugas sekolah yang harus dikumpulkan besok pagi.

Tanpa mengindahkan ajakan makan siang dari Mamanya, ia segera masuk kedalam kamar dan. Langsung membuka Laptopnya. Ia terlihat terburu – buru dalam membuka aplikasi word, dan ia langsung mengetikan tugas rumah dari guru Sosiologinya. Namun ketika Melly tengah serius mengetik, tiba tiba layar Laptop berubah menjadi biru dan sekejap mati begitu saja. Ia berusaha menghidupkan lagi Laptopnya namun tak kunjung menyala. Segera ia panik, ia bingung hendak melakukan apa, sedangkan Tugas itu belum sama sekali ia buat. Padahal gurunya sudah memberikan tugas ini sejak seminggu yang lalu.

“Mamaaaaaa…….”

“Maaaahhhhhh”

“Laaptooop aku rusaaahhhh, tugas aku belum selesai padahaal.” Teriak Melly sambil keluar kamar dan mencari Mamanya.

“Maaah…”

“Ada apa sih sayang pake teriak teriak begitu…?” Sahut Melanie.

“Ituu Laptop aku Erooor padahal aku lagi ngerjain tugas buat besook”
“Gimanaa dongg maaaah” Rengek Melly.

“Rusak gimana?” Tanya Melanie.

“Yah gak tahu tiba tiba Mati terus gak bisa dinyalain lagi” Jelas Melly.

“Ya udah pakai komputer papa di Ruangkerjanya kan bisa…” Sahut Melanie memberikan solusi kepada anaknya.

“Ahh Mama, komputer Papa kan udah lama gak bisa nyala.. Gimana sihhh”
“Aduuhh maaahhh gimanaa doong…. Maaaaahhhhhh….” Rengek Melly semakin keras.

“Aduhh Melly mama perutnya lagi gak enak nih, dede kamu gerak gerak terus, udah kalau gak kamu minta tolong Kak Bastian aja, dia kan pasti punya komputer.” Kata Melanie memberikan sebuah solusi lagi.

“Ohhh iyaa yaaahhhh. Ya udah deh kalau gitu. Tapi Ka Bastiannya ada dirumah gak ….?” Tanya Melly lagi.

“Kayaknya sih ada coba aja sana kamu tengok, Tapi kamu makan dulu giih.” Pinta Melanie.

“Ahh nanti aja ahh maaah, gak ada waktu lagi nih tugasnya buat besok soalnya.” Jawab Melly sambil bergegas menuju kamarnya untuk mengambil buku bukunya.

“Haaahh… Habiss kamu kalu tugas tuh yah langsung dikerjain jangan di… Tundaa.”
“Hmmmm… Dasar tuh anak mamanya lagi ngomong malah ditinggal.” Gumam Melanie sambil menuju sofa untuk menyandarkan tubuhnya.

Lalu tak lama Melly sudah keluar lagi dari kamarnya. Ia belum sempat berganti pakaian. Hanya seragamnya saja yang ia lepas dan mengenakan kaos tanpa lengan. Sedangkan Rok biru SMP masih ia kenakan. Segera Ia berlari menuju rumah Keluarga Bastian untuk meminjam komputer guna menyelesaikan tugas sekolahnya.

Ia mengetuk Pintu depan Rumah keluarga Bastian. Habibah pembantu keluarga itu yang membukakan pintunya.

“Eh Mba Melly, ada perlu apa Mba?” Tanya Habibah ketika membuka pintu.

“Ehh, Kak Bastianya ada gak Mba?” Tanya Melly.

“Kalau gak salah sih dari siang ada di kamarnya, coba Mba Melly naik aja keatas”

“Oh ya udah, aku naik yah Mba” sahut Melly sambil masuk kedalam rumah dan berjalan cepat menuju kamar Bastian.

Didepan Kamar Bastian.

Tok Tok Tok Tok Tok…

“Kaaak.. Kaaaak Bastiaaan”
“Kaaakaaaaaak.. Ini Melllyyy, Melly pinjem Laptop dongg” Seru Melly sambil mengetuk pintu kamar Bastian

“Katanya ada gimana sih Mba Habibah.” Gumam Melly.

“Kaaaaaakkkkk” seru Melly lagi sambil menarik gagang pintu Kamar Bastian dan ternyata pintu kamarnya tidak terkunci.

Mengetahui Kamar Bastian tidak terkunci, Melly langsung nylelonong masuk kedalam kamar. Dan ternyata Bastian tengah tertidur.

“Hmmmm, pantes di gedor gedor gak ada jawaban Kak Bastiannya tidur…hmmmmmm” Gumam Melly sambil berjalan masuk kedalam kamar Bastian.

“Kaakk Kaaaaakk…”
“Kaaak banguun dong, Mellyy pinjem Laptop atau komputernya dooong”

“Kaaaakkkk” Seru Melly sambil menoel lengan Bastian untuk membangunkannya.

“Yaaah gak bangun lagi… Kaaaakkk”
“Melly pinjeem Laptopp…”

“Heeeeehhh, paaa keee jaaaaa….””
“Heeeeeee…..” Jawab Bastian dalam lindurannya.

“Jadi gitu, habis Kak Bastian aku bangunin gak bangun bangun sih… Jadi aku pake aja deh Laptop kaka. Lagian tadi kaka juga ngejawab kook…” Kata Melly berusaha menjelaskan.

“Ohh gituuu, huuftttt” jawabku menghela nafas.

“Maaf yaah Kak sekali lagi…” Rajuk Melly.

“Iya iya Kakak maafin, tapi lain kali jangan kaya gini yah. Tadi coba kalau ada yang denger gimana? Kan orang nyangkanya kakak yang ngajarin kamu nonton begituan.” Sahutku.

“Iya iyaaa.”Jawab Melly sedikit merasa bersalah.

“Terus tugas kamu udah selesai?” Tanyaku.

“Hmmmm… Beluuum… Heeeeee” jawab Melly nyengir.

“Terus dari tadi kamu ngapain?, jangan jangan cuma nonton bokep yah?”

“Heeeeee…..”

“Heeeh dasar, tugas belum selesai malah nonton yang enggak enggak.” Sahutku lagi.

“Habis tadi Melly penasaran sih pas ngebuka folder film. Hehehe..” Jawabnya membela diri.

“Mel Mel, kalau Mama Papa kamu tahu gimana coba? Lagian kamu masih kecil kok yo dah berani nonton kaya gituan.” Kataku.

“Yaelah Kaak, Melly dah sering kali nonton gituan kalau disekolah bareng temen – temen.” Jawab dia.

“Yah Ampuuun, kamu tuh yaaah kecil kecil kok yoo dah Nakaaallll…….” Sahutku sambil mengusek rambutnya.

“Yah dah Mana tugas kamu sini kakak lihat.” Tanyaku sambil menaruh kursi di sebelah Melly.

“Nihh Kak tugas Sosiologi, disuruh bikin tulisan tentang kamu miskun kota, Melly dah nyoba bikin tapi malah pusing… Bantuiin dong kaaak.” Pintanya.

“Hmmm Sosiologi tugasnya, itu mah kecil buat kakak, ya dah sini biar kakak Bantuin”

Akhirnya aku mencoba menyelesaikan tugas si Melly. Kucoba membaca tulisan anak ini dan aku cukup heran. Ini memang kurikulumnya seperti ini apa memang gurunya sedeng, masa materi seperti ini diberikan buat anak SMP sih. Hmmmm. Aku saja mungkin butuh waktu semalaman untuk membuat esay semacam ini. Tapi untung aku masih memiliki sebuah artikel dengan tema serupa. Aku copy paste saja kedalam tulisan Melly yang baru setengah jadi.

Sembari merapikan tugas si Melly aku menyuruhnya untuk meminta tolong kepada Mba Habibah agar membuatkan Es Jeruk. Iapun keluar dari kamarku dan turun untuk mencari Mba Habibah. Sementara aku fokus dengan artikel artikel tentang Kaum Miskin Kota. Kalau cuma Copy Paste sih, 10 menit juga rampung.

Melly kembali lagi dan duduk disebelahku memperhatikanku merapikan tugas miliknya. Ia sedikit menggelendot diatas pundakku. Memang sejak kecil ia sering melakukanya, hingga sampai saat inipun ia tak canggung melakukannya lagi, walau sebenarnya aku sedikit risih karena dadanya yang belum tumbuh itu berkali kali menyenggol punggungku. Lalu tak lama Mba Habibah datang membawa dua gelas Es Jeruk beserta makanan ringan. Kulihat ia tengah berpakian rapi, nampaknya ia akan keluar.

“Wuiih rapi banget Mba, mau kemana?” Tanyaku sambil menerima Gelas darinya.

“Iya nih Mas, saya sekalian mau Izin, saya ada perlu sebentar, paling nanti habis Maghrib saya sudah pulang kok Mas..” Jelas Mba Habibah.

“Ohh iya Mba gak apa – apa, silahkan.” Jawabku mengizinkannya.

“Itu di meja sudah saya siapkan makanan kalau Mas Bastian mau makan.” Katanya sambil menaruh Baki didepan dadanya.

“Iya Mba Makasih yaah.” Jawabku sambil melanjutkan editanku yang hampir selesai.

“Ya sudah saya pamit dulu yah Mas, mari Mba Melly” sahut Mba Habibah berpamitan.

“Oh iya Mba monggoh ati – ati Mba…” Jawabku.

Mba Habibahpun keluar dari kamarku dan sekaligus menutup pintu kamarku. Sementara aku kembali tertuju pada layar Laptopku. Dan tak lama Tugas milik Melly sudah selesai. Aku yakin si Melly pasti mendapat nilai bagus kalau tulisannya macam ini.

“Ahhh selesai juga, sekarang tinggal diprint, nih kamu yang ngeprint yah, tuh pake Printer kakak aja sekalian.” Kataku sambil mencolok kabel USB penghubung Printer.

Lalu aku berdiri dari atas kursi putarku. Ku ambil es Jeruk yang sudah dibuatkan Mba Habibah dan mulai menyeruputnya. Kumelangkah menuju jendela lalu kubuka agar udara luar masuk kedalam. Kududuk dipinggiran Jendela sambil menikmati sebatang rokok. Aku memperhatikan Melly yang tengah menyiapkan hasil akhir tugasnya yang telah aku sempurnakan. Dalam hati kuberkata, sial betul nih anak. Dari kemarin bikin aku gedeg ajaa. Heeeh, pengen benget aku jutak kepalanya.

“Mell, nanti kalau kamu ditanyai guru kamu, bilang aja kamu bikin sendiri tugasnya, terus bilang kamu dikasih buku sama kakak kamu. Pasti guru kamu percaya.”

“Iyaa Kaaak Makasih yah bantuanya.” Sahutnya sambil mengklik tombol Print.

“Ahhh selesai juga, Melly jadi legaaa deh, Melly pikir gak bakal selesai.” Gumamnya sambil menunggu kertas hasil Printer keluar satu persatu dari dalam mesin Print.

“Yah selesai lah, kalau ngerjain tugasnya sambil nonton yang enggak enggak yah gak bakal selesai.” Sahutku sedikit menyindirnya.

“Heheheheh….. Biarin sihh kaaak” Jawabnya.

Buuuhhhhh.

Kuhembuskan asap tembakau melalui bibirku. Lalu kudengar ada suara motor berhenti didepan rumah. Kucoba melongok untuk melihat siapa yang datang. Rupanya benar ada seseorang laki laki menggunakan motor berhenti didepan rumah. Dan nampaknya ia tengah menelpon seseorang. Tak lama Mba Habibah keluar dan menghampiri lelaki tersebut, lalu Ia dan Lelaki tersebut segera berjalan entah kemana. Aku tak peduli.

Lalu aku turun dari atas jendela dan menghampiri Melly.

“Nahh dah selesai kan tugasnya.” Tanyaku.

“Udah kaaak” Jababnya sambil merapihkan kertas kertas tugasnya.

“Nahhh kalau udah selesai, yah udah sana pulaaaang, kakak mau lanjut tidur lagi, gara gara kamu Kakak kebangun tadi.” Pintaku.

“Yah elah Kakk nanti aja sih kenapa,…” Protesnya.

“Lah terus kamu mau ngapain lagi? Wong tugasnya dah selesai kan? Ya udah mau apa lagi coba?” Tanyaku dengan tegas.

“Yahhh mau nonton yang tadi lagi, boleh yaaahhh, tadi tanggung kaaakk nontonnya baru separooo.”Bujuknya.

“Eeeeet, mau nonton gituan lagi, enak aja gak boleh.” Larangku.

“Yaaaaahhh, pelit bangett sihhh. Ayolah Kaaaaak, sekali ini ajaaaa. Yaah”
“Pleeeeeeaaaseeeeee…..”
“Pleeeaseeeeeee

“Pleeeaaaseeeeee……..”
Rengeknya memekakkan telingaku.

“Iya iya, tapi gak usah lama lama. Nanti mama kamu nyariin gimana?”

“Ahhh mama paling lagi tiduran kalau jam segini…. … Berarti Melly boleh nonton lagi kaaan.?” Tanya dia memastikan.

“Hmmmmm, yah udah setel aja, kamu dah tahu kan ada dimana.”

“Udaaah dooongg heeeheeee.” Cengirnya sambil bergegas membuka folder dimana aku menyimpan koleksi film *******.

Akhirnya kubiarkan saja ia menonton film bokep dengan catatatn dengan melirihkan suara atau menggunakan headphone. Namun ia memilih melirihkan suara. Baru lima menit ia menyaksikan film panas itu, tapi kulihat tubuhnya sudah sedikit menggeliat ketika melihat adegan adegan seronok yang tak sepatutnya disaksiakan anak seumuran Melly. Luar biasa memang pergaulan anak jaman sekarang, aku saja menonton film itu untuk pertama kalinya ketika aku menginjak bangku kuliah. Namun Melly, kulihat ia memang seperti terbiasa menyaksikan film film panas itu.

Setelah cukup lama aku perhatikan tangan si Melly mulai berada didepan area sensitifnya. Mungkin secara naluriah ia melakukan hal itu. Lalu tiba – tiba terlontar pernyataan yang cukup mencengangkan dari gadis berumur 15 tahun itu.

“Kaak, rasanya ML itu gimana sih?” Tanya Melly dengan polosnya.

Aku yang tengah menikmati rokokku yang ketiga sekitika terkejut atas apa yang ditanyakan oleh Melly. Aku tak sangka ia sampai menayakan hal itu. Aku coba pura – pura tidak mendengarnya.

“Kaaaak, ditanyaain diem ajaa sihhhh..hhhhhh” Tanya dia lagi dengan nafas sedikit berat.

“Apaa lagi seihh Mel Emeeell…” Tanggapku seadanya.

“Yaah itu, rasanya kalau ML ituu gimana sich….?” Tanya dia lagi dengan pertanyaan yang sama.

“Haaaah, Ya ML yaa enak laaah.” Jawabku tak sadar.

Tunggu kenapa aku mengatakan itu. Aduh pasti ni anak akan semain penasaran. Bego begooo. Bakal makin panjang nihhhh…..

“Oh yaaah? Berarti Kakak pernah ML dong?” Tanya dia melihat kearahku.

Tuhkan bener apa yang kuduga. Pasti ia akn bertanya semakin jauh. Gawat aku tadi tak sengaja mengatakan aku pernah ML. Lalu apa yanh harus kukatakan untuk mengalihkan obrolan ini. Aduhhh… Gimana ini.

“Kaka ML sama siapa kaaak?”

“Kamu ini tanya apa sihhh, udah ah itu filmnya dimatiin aja deh, daah daahh kamu pulang sanaaah…” Seruku menyuruhnya untuk pulang.

“Ahhh Kakakk gak asyiiik nihhh.” Rengeknya.

“Ahhh biarin” Sahutku sambil berjalan kearah meja belajarku dan bergegas meraih mouse untuk mematikan film yang sedari ditonton oleh Melly.

“Ahhhh dimatiiin sihhh Kaaaak. Payaah nih Kak Bastian…. Nanti aku bilang kemama ama tante ah kalau Kak Bastian ngajarin aku nonton bokep…” Keluar pernyataan ancaman dari bocah ini.

“Eeiiittt eiittt…. Enak aja kamu bilang, kamu yang nonton – nonton sendiri kok mau bilang Kakak yang ngajarin siihhh.”

“Yah makanya kasih tahu rasanya ML itu gimana…. Aku penasaran kaaaak….”

“Oke oke kakak kasih tahu, tapi awas sampe kamu bilang macem – macem kaya tadi” sahutku balik mengancam.

“Iya iya Janji…”

Dari pada anak ini terus merengek kupenuhi saja permintaan anak inti untuk mengetahui bagaimana rasanya bercinta. Tapi bagaimana aku menceritakannya? Itu sama saja menceritakan pengalamanku dong? Tapi akhirnya aku ceiritakan juga, aku bilang kalau aku pernah ML tapi tidak mengatakan dengan siapa aku melakukannya. Aku tak mau ia sampai membocorkannya keorang lain. Bisa gawat.

“Ohhh jadi gitu yah Kakk.” Sahutnya sedikit lega atas jawabanku.

“Yah gituu, udah kan gak ada yang mau kamu tanya lagi.” Tanyaku.

“Hmmmm…. Melly jadi penasaran Kak….”

“Penasaran apa? Kan kakak tadi dah ceiritain?” Tanyaku sedikit hati hati atas pernyataanku

“Yah Melly penasaran, denger cerita Kakak Melly jadi kepengen ngerasain ML deeehhhh….”

Mampus, apa lagi iniii. Permintaan si Melly semakin aneh dan mengkhawatirkan.

“Kaaaak…”

“Iyaaaaa……” Jawabku berhati – hati.

“Kakak Mau ajarin Melly ML gaak?….”
Pintanya sambil mengeluarkan senyum manisnya.

Author: 

Related Posts