Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 32

Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 32by adminon.Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 32Dark Secret [Setiap Orang Mempunyai Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 32 CHAPTER 20 : LOST IN THE ECHO Part 6 Lidya POV Dengan wajah yang memanas, kupaksakan diriku berbalik. Dan di pintu, Mbak Anisa terlihat tersenyum simpul melihat keadaan kami. Aku hanya bisa tersenyum malu melihatnya. Nenek lampir, disekolah gak pernah diajarin ngetok pintu? […]

tumblr_nmbi64UTj81u53r89o5_1280 tumblr_nmbi64UTj81u53r89o6_1280 tumblr_nmjreueY5G1tscgc7o1_540Dark Secret [Setiap Orang Mempunyai Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 32

CHAPTER 20 : LOST IN THE ECHO
Part 6

Lidya POV
Dengan wajah yang memanas, kupaksakan diriku berbalik.

Dan di pintu, Mbak Anisa terlihat tersenyum simpul melihat keadaan kami. Aku hanya bisa tersenyum malu melihatnya.

Nenek lampir, disekolah gak pernah diajarin ngetok pintu? kata Mas Andri dengan raut wajah yang sukar dibaca.

Siapa yang tahu kalau masih sakit gitu udah bisa ciuman? kata Mbak Anisa yang membuat pipiku terasa semakin panas.Eh, bukan maksudnya gak boleh sih, seru juga ya kalau ciuman saat gini? lanjut Mbak Anisa sambil melihat kearahku.

Aduh, rasanya aku mengerti, darimana si-mata-keranjang punya bakat berbicaranya. Pikirku mendengar rentetan kata-kata Mbak Anisa.

Dimana ibu mbak? tanyaku mengalihkan perhatian dari perihal ciuman ini.

Ibu masih istrahat, mungkin nanti malam mau jenguk anaknya yang nakal ini, kata Mbak Anisa sambil melirik si-mata-keranjang.

Kulihat si-mata-keranjang melotot kearah kakaknya. Keluarga yang akur dan bahagia, pikirku.
Dan aku merasa sedikit sedih melihatnya.

Berbanding terbalik dengan keadaan keluargaku. Sherly, kalau dia ada disini, pasti akan jadi lawan yang tangguh buat Mbak Anisa untuk berdebat. Pikirku sambil tersenyum.

Kulihat Mbak Anisa membawa sebuah kantong kertas, yang, kalau melihat dari labelnya, dari toko pakaian.

Mbak Anisa mendekat kearahku dan berbisik.

Lid, mbak bawain pakaian, ehmmm, sekalian dalemannya juga, kamu gak pake daleman kan? bisik Mbak Anisa yang sukses membuatku malu bukan kepalang.

Darimana Mbak Anisa tahu?

Rasanya kakak adik kompak urusan beginian.

Eh, iya mbak, tapi ..mbak, kataku mencoba mengelak dari tawaran Mbak Anisa.

Gak apa-apa kok, tadi mumpung mampir di butik, ini Lid, pakai dulu sana, biar Si Andri gak ngiler ngeliatin badan kamu terus,hihihi, tawa Mbak Anisa sambil menyerahkan kantong pakaian yang dibawanya. Eh, kalau lagi hamil. Gak boleh pakai pakaian yang ketat kayak jeans ya, lanjutnya sambil mengedipkan matanya.

Dengan sedikit enggan aku menerimanya, kulihat Mbak Anisa, senyum pengertian terlihat diwajahnya.

Dengan tersenyum malu aku masuk kedalam kamar mandi dan melihat isi kantong yang dibawakan Mbak Anisa.

Oh tidakkk…

Sebuah g-string hitam mini, sebuah push up bra, legging hitam serta kaos warna putih.

Semuanya serba mini dan ukurannya lebih kecil dari ukuran yang biasanya aku pakai. Dengan wajah yang memanas kalau membayangkan lekuk tubuhku yang mungkin terlihat dari pakaian ini,

Dengan ragu aku membuka jaket, baju dan celana yang aku pakai. Kuambil g-string mini yang ada didalam kantong dan dengan ragu memakainya. Sangat mini, mungkin kalau rambut kemaluanku tidak kucukur bersih, pasti banyak yang akan mengintip keluar.

Kuamati sebentar tubuhku di cermin yang ada.

Hmmm, lumayan juga. Biasanya aku hanya memakai yang berwarna putih, sekarang melihat pangkal pahaku dibalut warna hitam, terasa sedikit aneh. Kuambil bra yang ada di dalam tas dan kulihat ukurannya.

Hmmmm, pas.

Namun dengan model push up seperti ini payudaraku sedikit terangkat keatas dan terlihat lebih besar serta menonjol daripada ukuran aslinya. Bukannya lebih santai, rasanya si-mata-keranjang akan lebih sering melotot kalau seperti ini.

Kuambil legging yang dibawakan Mbak Anisa dan mulai mengenakannya.

Dan seperti dugaanku, pantatku terlihat menonjol dibalut legging ketat yang satu ukuran lebih kecil daripada legging yang aku pakai. Terakhir, aku kenakan kaos putih yang ada di dalam tas. Dan sekali lagi, ukurannya lebih kecil dari nomer yang biasa aku pakai.

Huffft, walaupun ketat, namun dengan ukuran payudara seperti ini, tidak akan bisa mengalahkan si-sekretaris-seksi di kantor si-mata-keranjang.

Eh? Tapi kenapa aku malah memikirkan sekretaris si-mata-keranjang.

Ah, sudahlah.

Kumasukkan jaket, celana dan bajuku kedalam kantong bekas pakaian yang melekat di badanku.
Dengan pelan, kubuka sedikit pintu kamar mandi, namun kudengar si-mata-keranjang sedang berbicara dengan Mbak Anisa.

Keluar.

Tidak.

Keluar.

Tidak.

Keluar.

Dan baru akan kubuka lebih lebar pintunya ketika aku dengar namaku disebut. Kutarik lagi pintu kamar mandi, dan kudengarkan pembicaraan si-mata-keranjang dengan Mbak Anisa.

Kapan kau mau menikahi Lidya Ndri? tanya Mbak Anisa, dan untuk pertama kalinya aku mendengar nada yang begitu serius dalam suaranya.

Kapan-kapan saja, sahut si-mata-keranjang dan kudengar nada geli dalam suaranya.

Jadi lelaki kau harus bertanggungjawab, bukan seperti itu kalau membahas pernikahan Ndrii, seru Mbak Anisa dengan nada yang mulai meninggi.

Bertanggungjawab gimana? Kami belum…

Ya bertanggungjawab, nikahi Lidya, segera! Jangan mau enaknya saja kalau jadi cowok! kata Mbak Anisa, dengan nada suara yang semakin tinggi.

Enak apaan? Belum dapat enaknya nih, aduuuhhhhhhhh! seru si-mata-keranjang. Kutebak Mbak Anisa melakukan sesuatu yang membuat si-mata-keranjang mengaduh kesakitan.

Apaan si mbak? Tanya aja si-ce, eh, Lidya, sungut si-mata-keranjang.

Hmmmm, mungkin sekarang saatnya aku meluruskan semua kesalahpahaman ini, sebelum terlalu jauh. Kutarik nafas dalam dan keluar dari pintu kamar mandi.

Nah, ini Lidya, ayo Lid, masa Andri gak mau nikahin kamu nih, cerocos Mbak Anisa. Mbak Anisa berdiri tepat diantara aku dan si-mata-keranjang sehingga aku tidak bisa melihat ekspresi si-mata-keranjang saat ini.

Bener kan Lid, kita belum…..,kata si-mata-keranjang, sejenak terputus ketika melihatku. Iya, Mbak Anisa bergeser sehingga aku bisa melihat ekspresi si-mata-keranjang.Pacaran, sambung si-mata-keranjang.

Iya Mbak, kami belum paca, eh, pacaran??? kataku, setelah menyadari ucapan yang dikeluarkan si-mata-keranjang.

Mas! Jelasin ke Mbak Anisa! kataku dengan nada yang tinggi.

Namun tunggu! Si-mata-keranjang sekarang terlihat seperti orang linglung.

Dasar mesum!

Ni anak, matanya gak bisa gak melotot lihat cewek cakep kata Mbak Anisa sambil menggelengkan kepalanya.

Eh, iya, kami belum sempat macem-macem, suer! kata si-mata-keranjang sambil mengangkat jarinya seperti membentuk huruf V.

Cuma satu macem kan??? Dan satu macem itu buat Lidya hamil!! cerocos Mbak Anisa.

Aduh, gimana jelasinnya kalau seperti ini?

Kulihat si-mata-keranjang yang kebetulan memandangku juga. Terlihat dia mengangkat bahu dan mengedipkan matanya.

Ni orang! Bukannya membantu menyelesaikan kesalahpahaman ini, malah bersikap santai seperti itu!

Mbak, kami gak pacaran dan…,

Dan tidak saling cinta? Tidak masalah, seiring waktu, pasti bisa kok, nanti kalau sudah menikah pasti bisa lebih dekat dan cinta itu akan datang dengan sendirinya, percaya deh sama mbak, kata Mbak Anisa memotong pembicaraanku.

Eh, ngomong-ngomong, kamu semakin cantik dan bulet pakai baju gini, bener gak Ndri? tanya Mbak Anisa kearah si-mata-keranjang.

Iya, apalagi kalau lagi gak pake baju, kata Mas Andri dengan santai.

Aduuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh…

Galang POV
Rasanya sudah cukup Her, mari kita kerumah sakit sekarang, kataku sambil melangkah menaiki tangga. Kulihat lagi koleksi buku yang banyak dari Andri, ketika aku melihatnya!.

Sebuah benda yang terletak diatas salah satu lemari. Benda yang menghadap kearah meja komputer.

Tunggu Her, kataku kepada Herman.

Aku menuruni tangga dan mencoba melihat keatas lemari. Sangat sulit untuk melihat benda itu dari sini. Kuambil kursi yang ada didepan meja komputer dan naik keatasnya. Aku lihat sebuah kotak hitam namun berisi seperti sebuah kamera dipasang diatas lemari. Dan dari posisinya, sepertinya mengawasi meja komputer.

Apa yang kau cari Lang? tanya Herman dibelakangku.

Petunjuk, kataku singkat sambil mengawasi benda yang ada diatas lemari, letaknya cukup tersembunyi, tadi hanya sekilas aku melihat lampu indikatornya yang berkedip. Kalau tidak, mungkin aku juga melewatkannya. Kuperhatikan lebih dekat benda yang aku yakin sebuah portabel CCTV, seperti yang terpasang didalam mobil.

Kuambil dengan perlahan benda itu dari tempatnya lalu kutunjukan pada Herman.

Ini Her, kataku singkat.

Apa ini Lang? tanya Herman sambil mengambil benda yang kubawa.

CCTV Her, dan rasanya kita akan mendapatkan sebuah petunjuk dari benda ini, kataku.

Tapi dimana tempat penyimpanan datanya? kata Herman sambil mencari kesekeliling.

Itu kemungkinan seperti kamera yang ada di mobil, jadi tidak perlu kabel Her, sekarang mari kita cari Bram dulu, mungkin dia bisa membaca alat ini, kataku sambil melangkah keluar. Herman mengikutiku dalam diam.

Kami menuju lift dalam diam, sesampainya di pos satpam, aku kembalikan akses card security yang kami pinjam.

Jadi ke Bram? tanya Herman.

Ayo, kataku sambil menuju mobil kami terparkir.

Didalam mobil, seperti biasa Herman yang mengemudi, sedangkan aku lebih suka sebagai penumpang saja. Jalanan di Jakarta, selalu macet di jam seperti ini. Udara panas sudah mulai menyengat, padahal hari belum terlalu siang. Kendaran dari berbagai macam jenis dan tipe terlihat saling mencari celah untuk mendahului.

Habis kasus ini, aku ingin cuti, capek ngurusin kasus yang gak jelas kayak gini, kata Herman sambil mengemudi.

Hahaha, bilang saja, tubuh tuamu itu dak kuat lagi seperti dulu, ejekku ringan.

Mending aku, daripada kau, sudah umur segitu, pacar saja kagak punya, kerjaanmu hanya nyari wanita penghibur saja, kalau yang lain tau, habislah dirimu, ckckckc, kata Herman sambil menggelengkan kepalanya.

Lang, ingat umur, cari pacar kek, abis itu nikah, lanjut Herman lagi.

Ah, siapa juga yang mau sama aku Her, kataku sambil tersenyum.

Nyari aja gak pernah, gimana mau ada yang dapet? Memang kau kira pacar bisa jatuh dari langit?Hahaha, kata Herman sambil tertawa.

Nanti saja Her, kataku singkat.

Hufffttttt… percakapan yang selalu sama dari waktu kewaktu.
Herman, Herman, selalu bersemangat mencarikan pacar untukku, padahal…

Andai kau tau alasan semua ini…

Ahhh sudahlah, lebih baik memikirkan kasus yang semakin rumit ini. Motif. Itu yang belum aku ketemukan, seandainya ada motif yang bisa kami gali.

Lang, kau pikir siapa yang paling mungkin menjadi pelaku dari semua ini? tanya Herman memecah lamunanku.

Kugelengkan kepalaku.Belum tau Her, masih gelap, menurutmu? Aku balik bertanya.

Antara Frans dan Edy, hanya mereka berdua yang mempunyai motif, kata Herman.

Darimana kau tahu Her? tanya sambil tersenyum geli.

Motif lama, iri hati atau balas dendam, kalau tidak, dari tiga macam hal yang menghancurkan kaum kita, tahta, harta dan wanita, kata Herman panjang lebar.

Aku berpikir sejenak mendengar apa yang dikatan Herman.

Tahta, harta dan wanita.

Tiga hal yang selalu membuat lelaki terjatuh.

Kadang oleh satu diantara ketiga itu, namun juga bisa oleh ketiganya.

Hmmm, apa menurutmu kita harus melakukan background check kepada mereka? tanyaku pada Herman.

Sudah kulakukan, tinggal nunggu hasilnya saja sekarang, kata Herman sambil tersenyum.

Andri POV.

Ndriii,

Andriii,

Andriiii!!!, bangun!!!

Uhhhhh,, masih ngantuk.

Dasar nenek lampir.

Andri, kalau tidak mau bangun juga, mbak siram pake kecap! kembali suara si-nenek-lampir terdengar dengan nada yang semakin tinggi.

Kecap??? Alamak! Bisa-bisa kayak bakso jadinya. Pikirku, mengenang beberapa kejadian memalukan dimasa lalu, dimana si-nenek-lampir membuktikan ucapannya, tanpa peduli dimana dan dengan siapa aku berada.

Iya, iya, sudah bangun ni, kataku sambil mengucek mataku yang masih mengantuk dengan tanganku yang tak berisi infus.

Ini,Edy jenguk, bangun! teriak si-nenek-lampir.

Kalau saja bukan kakakku, dah tak jitak ne anak, pikirku,

Kenapa bengong? Ngayalin mau ngerjain mbak ya? kata si-nenek-lampir dengan nada yang semakin tinggi.

Aduuuhhhh, punya indra keenamkah ini orang?

Ye, siapa juga? Ngantuk tau, kataku sambil melihat kebelakang si-nenek-lampir.

Disana berdiri Edy dan Erlina. Erlina terlihat membawa parcel yang cukup besar.

Hai Ndri, gimana? tanya Edy. Singkat seperti biasa.

Lumayanlah, gimana proyek kita? tanyaku.

Aku dari kemarin rapat dengan Pak Tony, beliau minta beberapa perubahan, yang kurasa sedikit sulit, kata Edy dengan pelan.

Perubahan apa Dy? tanyaku. Dengan keadaan kami yang seperti ini, dengan keadaanku yang seperti ini, membuat perubahan detail pada proyek, bukan hal yang mudah.

Sama sekali tidak mudah.

Masalah waktu, Pak Tony minta waktunya dimajukan, jadi hari Rabu minggu depan kita sudah demo, bukan hari senin dua minggu lagi, kata Edy.

Terus? tanyaku.

Mereka minta kalau design nya berbasis web dan mempunyai responsive design, terang Edy.

Hmmm, demo dimajukan dan responsive design, hal yang lumayan sulit, terus bagaimana dengan feenya? Kau sempat nego? tanyaku.

Sudah kuatur, kata Edy sambil tersenyum.

Seperti biasa, selalu bisa diandalkan. Punya teman dan partner seperti Edy dan Frans, rasanya pekerjaan akan lebih cepat selesai.

Baguslah, kalau begitu, aku kerja dari sini, kau dan Frans awasi pengerjaannya di kantor, hmmm, Lina, tolong nanti kabari kalau ada hal-hal yang kurang jelas, atau teman-teman perlukan di kantor ya? pintaku pada Edy dan Erlina.

Tenang aja Ndrii, jangan dipaksa, nanti aku dan Lina kabarin kalau ada perkembangan lagi, oh ia, ini ada titipan dari teman-teman di G-Team, kata Edy sambil memberi isyarat kepada Erlina untuk memberikan parcel yang dibawanya.

Ini pak, cepat sembuh ya pak, sapa Erlina sambil tersenyum.

Maaf baru bisa jenguk sekarang ya, dari kemarin handphoneku mati, tadi baru ketemu Frans dan dia kasi tau keadaanmu.Kami balik kekantor dulu, cepet sembuh Ndrii, Mbak, kami balik dulu, kata Edy sambil menuju pintu.

Loh?! Kok cepet? Gak minum dulu? Cuma ada air putih saja sih, kata si-nenek-lampir blak-blakan.

Ne anak memang perlu kursus liat situasi, kondisi dan toleransi. Kalau disingkat jadi…

Hahaha, kapan-kapan saja mbak, mari mbak, sahut Edy dari pintu.

Lidya kemana mbak? tanyaku kepada si-nenek-lampir ketika Edy sudah tidak kelihatan.

Masih nyari obat keapotek .Ndriii, mbak tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian, tapi mbak ingin, kamu segera menikahi Lidya, dia anak yang baik, dan ibu, sudah gatal ingin punya cucu, kata si-nenek-lampir dengan pelan.

Baru kali ini kudengar nada suara si-nenek-lampir bisa serendah ini dan wajahnya murung. Terlihat rona penyesalan diwajahnya. Dan kusadar, itu karena dari perkawinannya, dia belum punya momongan. Bisa kulihat matanya terlihat sedikit memerah, menahan air mata yang hendak tumpah.

Ndri, apa kau tidak mau menikah dengan Lidya gara-gara wanita yang dulu? tanya si-nenek-lampir sambil menatapku dalam-dalam.

Bukan mbak, kataku dengan tenang. Itu sudah masa lalu, biarlah itu menjadi kenangan saja, lanjutku.

Mau tak mau pikiranku menerawang kemasa itu, masa dimana aku dan Frans masih duduk di bangku kuliah. Masih mengikuti darah muda yang bergejolak, masih mengutamakan emosi daripada logika. Masa dimana seorang wanita membuat hidupku lebih berwarna.

Bagaimana dengan proyek kalian? Belum berhasil juga? tanyaku. Proyek yang kumaksud, proyek membuat momongan si-nenek-lampir.

Sampai saat ini belum ada hasilnya, mbak sudah periksa, dari mbak tidak ada masalah, tapi kakak iparmu itu, tidak mau ngecek keadaannya, dan dia terus terang kepada mbak, belum ingin punya momongan dulu, ingin mengejar karir dulu katanya, jawab si-nenek-lampir dengan senyum hampa diwajahnya.

Eh, mungkin kurang keras itu usahanya, hahaha kataku sambil tertawa.

Dasar, kau ini! kata si-nenek-lampir sambil mengucek rambutku.

Harusnya tiga kali sehari mbak, bukan tiga hari sekali, hahaha kataku meledek si-nenek-lampir.

Apanya yang tiga kali sehari? tanya seseorang dari pintu yang terbuka.

Si-celana-dalam-putih!

By the way, mungkin didepan pintu harus diisi tulisan, ketuk pintu sebelum masuk!, pikirku.

Proyeknya Lid, kataku yang disusul dengan sebuah cubitan dari si-nenek-lampir.

Proyek apa mbak? tanya si-celana-dalam-putih dengan ekspresi bingung.

Proyek buat, aduuhh! seruku ketika dengan sukses si-nenek-lampir menjitak kepalaku.

Jangan didengerin Lid, dia lagi kumat nih, kata si-nenek-lampir sambil menunjuk kearahku. Gimana, obatnya dapet? tanya si-nenek-lampir.

Dapet kok mbak, kata si-celana-dalam-putih sambil menunjuk tas plastik yang kuduga berisi obat. Kulihat raut wajahnya sedikit lelah, keringat terlihat menempel didahinya. Wajahnya bersemu merah, terlihat segar dan merangsang.

Merangsang.

Dengan kaos ketat yang dibelikan si-nenek-lampir, legging hitam ketat yang membungkus dengan indah pantat bulatnya. Pemandangan yang dihasilkan keduanya cukup membuatku terpana. Punya bakat jadi tukang beli pakaian juga si-nenek-lampir.

Wah, ampe keringetan gitu, istrahat dulu Lid, gak baik buat bayinya kalau ibunya kecapean, Andri, jaga calon istrimu baik-baik, mbak ada urusan bentar, nanti mbak balik sambil bawa makan siang untuk Lidya, kata si-nenek-lampir sambil beranjak menuju pintu.

Oh iya, kalau mau gituan, katanya gak baik juga terlalu sering kalau lagi hamil muda, hihihi kata si-nenek-lampir sambil tertawa dan menutup pintu.

Kulihat si-celana-dalam-putih tersenyum kikuk mendengar perkataan si-nenek-lampir. Pandangan mata si-celana-dalam putih sekarang terlihat mengarah padaku. Entah apa yang ada dalam pikirannya, terlihat wajahnya sedikit sayu.

Lid, kalau capek, istirahat saja dulu, kataku melihat wajahnya yang sedikit sayu.

Gak apa-apa kok mas, sahutnya.

Gak apa-apa? Namun terlihat dari wajahnya dia seperti mempunyai banyak pikiran. Lid, apa yang kau sedang pikirkan? Apa yang sedang kau khawatirkan?

Oh iya mas, tadi seperti Mas Edy dan Mbak Erlina kesini ya? tanyanya.

Iya Lid, tadi mereka kesini, tapi segera balik lagi, ada sedikit perkembangan untuk proyeknya, kataku pelan.

Apa mas?

Waktu presentasi demo dimajukan jadi hari Rabu dan mereka minta responsive design, jawabku.

Sejenak kulihat si-celana-dalam-putih termangu. Kemudian terlihat dia menarik nafas panjang dan menunduk. Kabar yang tidak menyenangkan disituasi seperti ini.

Kuambil laptopku dan menyalakannya. Kumasukkan modem dan mencoba untuk mendapatkan akses internet. Oke, sekarang saatnya bekerja. Kudownload teamviewer dan mensettingnya. Oke, persiapan dilaptop selesai, sekarang tinggal dihandphone, download BBM di app store dan memasukkan email da passwordku yang dulu. Oke, done, sekarang…

Mas, dibilangin gak baik kalau laptopnya langsung ditaruh dipangkuan! suara si-celana-dalam-putih terasa sedikit keras ditelingaku. Dengan cemberut dia mengambil meja yang biasa digunakan untuk makan oleh pasien, mengambil laptop dari tanganku dan meletakkannya diatas meja. Semua itu dilakukannya dengan wajah cemberut.

Tapi entah kenapa semakin terlihat menantang didepanku.

Eh, kenapa terlihat itu sedikit membesar ya? Kucuba melihat sedikit lebih dekat dan…

Aduh,seruku ketika jari kecil dari tangan lentik si-celana-dalam-putih dengan gemas memcubit pahaku ketika dia mengetahui kemana arah pandanganku.

Dasar mesum, katanya sambil cemberut.

Hehehe, tawaku pelan. Ketauan deh. Oh iya Lid, untuk masalah bagian codingnya, gimana kalau kita berdua yang terjun langsung? Maksudku, kita bisa dari sini kerja, tanyaku penuh harap.

Kulihat dia sedikit bingung dan tidak yakin dengan usul yang aku ajukan. Terlihat keningnya berkerut sejenak sebelum dia melihat kearahku dan menganggukan kepalanya.

Yesssssssss….

Galang POV.
Gimana Bram? tanyaku ketika si ahli forensik sedang memeriksa benda yang kuduga CCTV itu.

Hmmmm, memang seperti CCTV, sekarang tinggal mengcopy data yang kau mau, kata Bram. Tunggu dulu sebentar Lang, katanya sembari memulai proses mengcopy datanya.

Darimana kau memperoleh CCTV ini Lang? Lumayan kualitas dan harganya, tanya Bram dengan penasaran.

Dari atas lemari korban pencurian kita, Andri, CEO G-Team, terang Herman sebelum aku sempat menjawab.

Terlihat wajah Bram sedikit terkejut mendengar kabar itu. Sepertinya dia mengharapkan kami menyebut nama yang lebih besar daripada seorang CEO perusahaan.

Oke, done! kata Bram sambil memperlihatkan beberapa rekaman video.

Bisa kita lihat rekaman pada hari Rabu ini? tanyaku penuh harap.

Hmmmm, bisa, rekamannya dibagi perhari, jadi bisa kita lihat sesuai dengan yang kau mau, jelas Bram sambil mulai mencari hari yang seperti kami minta.

Ini Lang, kalau kau mau memajukannya, tinggal tekan panah kanan saja, kalau mau lebih cepat, tinggal klik panah kanan yang dobel kata Bram sambil memberikan mouse kepadaku.

Kuambil mouse dari tangan Bram dan mulai memajukan rekaman video ini. Kalau tidak salah pencurian diduga sekitar pukul sembilan malam. Kumajukan sampai pukul sembilan dan kuamati dengan seksama. Kira-kira pukul sembilan lewat limabelas menit, seseorang terlihat memasuki ruangan tempat kami menyelidiki tadi.

Lang, bukannya itu mirip dengannya? kata Herman sambil menunjuk kearah sesorang yang ada di layar.

Orang yang sekarang terlihat menuju meja komputer, mengambil obeng dari sakunya dan terlihat membuka casing komputer. Terlihat ahli! Setelah casing terbuka, orang itu dengan mudahnya membuka hardisk dan memasukkannya kedalam saku celana dan bajunya. Kemudian memasang casing kembali. Sayangnya selama proses itu dia menghadap kearah lain sehingga mukanya terhalang. Saat dia bangun, tak sengaja obeng yang dibawanya terjatuh, dengan sigap dia menangkapnya dengan tangan kanan, sekilas, mukanya terlihat. Namun sayangnya, mukanya tertutup masker, kacamata serta topi yang menutupi kepalanya.

Dari postur, pakaian, sepertinya aku pernah melihatnya.

Aku memandang wajah Herman, terlihat gairah disana.

Mungkin memang dia Her, kataku.

Kucoba membuka file rar yang ada didalam video trojan.avi.
Siallll! Ada paswordnya.
Kira-kira, apa yang digunakan Ade sebagai passwordnya?

Author: 

Related Posts