Cerita Sex Awal dari Akhir Bagian Tujuh Enam – Part 22

Cerita Sex Awal dari Akhir Bagian Tujuh Enam – Part 22by adminon.Cerita Sex Awal dari Akhir Bagian Tujuh Enam – Part 22Enam – Part 22 Bab IV Awal dari Akhir Bagian Tujuh Bima keluar dari toko pakaian itu menjinjing tas berisi jaket baru. Kini kakinya melangkah menuju bagian depan mall, perutnya lapar. Dia berjalan dengan gontai, sambil melirik kiri kanan, mencari pemandangan indah dari para pengunjung wanita. Malam ini pemandangan seger-seger. Beberapa langkah dari pintu keluar, […]

tumblr_nvbeqkiFN31u10ny7o1_400 tumblr_nvbeqkiFN31u10ny7o2_400 tumblr_nvbeqkiFN31u10ny7o3_250Enam – Part 22

Bab IV
Awal dari Akhir Bagian Tujuh

Bima keluar dari toko pakaian itu menjinjing tas berisi jaket baru. Kini kakinya melangkah menuju bagian depan mall, perutnya lapar. Dia berjalan dengan gontai, sambil melirik kiri kanan, mencari pemandangan indah dari para pengunjung wanita. Malam ini pemandangan seger-seger.
Beberapa langkah dari pintu keluar, langkahnya terhenti, matanya menangkap sesosok bayangan yang sangat dia kenal. Ima.
Sebuah tangan melingkar di pingangnya, memeluk erat tubuh Ima. Gio. Mereka bercanda, tertawa dan bahagia. Bima cemburu melihatnya, saat itu ingin sekali ia pergi dan teriak, tapi kakinya tak mau gerak. Matanya tetap tertuju pada sepasang kekasih itu.
Jantung Bima seperti terhenti, kala Gio mencium kening Ima. Sialan. Batinnya.

==========
Banyak dari kita yang gak tau, bahkan apa yang sebenarnya kita inginkan.
Iya, tapi gue tau apa yang gue mau Lid. Gue mau elo, titik.
Gini Gus, ini badan, udah banyak dipake laki-laki, bahkan kemaren, temen kamu Bima dan Gusti juga make. Kamu ga layak dapetin perempuan kaya gini. Masih banyak waktu buat kamu Gus.

Tapi gue gak butuh waktu Lid, gue cuman butuh lo untuk ada di samping gue, gue gak peduli dengan lo udah dipake sama sapa aja, masa lalu lo juga gue gak pernah nanya, tentang siapa yang pertama merawanin lo ato apapun itu.
Kepala Lidya menunduk ke bawah, memandangi gelang kaki di kaki kanannya, angin di sore itu dirasa sangat dingin, kopi di sebelah kanannya pun sudah dingin sedari tadi. Sang Dalang masih bernarasi di televisi, diikuti tawa renyah para penonton.
Coba lo ngerti deh, gue cinta lo apa adanya, seadanya, dan tulus.
Serius?

Yaelah, seriusss beb. Masa si boong.
Lidya tersenyum getir, dirinya masih kurang senang dengan ide bahwa Gusti mendapatkan dirinya yang sudah sangat kotor.
Baideway, emang siapa yang pertama kali merawanin elo?
Mau tau?
Gusti mengangguk.
Guru SMA dulu.

==========
Pagi ini mentari bersinar dengan tidak malu-malu. Rian menjemur semua cucian dengan diiringi musik dari HP nya. Hatinya masih galau, masih ragu-ragu dia rasa. Pergi ke rumah Revi atau tidak. Waktu itu rasa penasarannya akan bibir Revi terjawab sudah, empuk dan manis. Rasa buah dada Revi pun masih berbekas dilidahnya, kulitnya yang halus dan wangi.

Memikirkan hal itu membuat adik Rian bangun. Dan dia menyelesaikan menjemur pakaiannya lebih cepat. Lalu kembali masuk ke kamar mandi, memuaskan hasrat birahinya akan Revi.

==========
Revi memandangi wajahnya di cermin, Cantik. Siap untuk bertemu Rian. Revi berharap Rian mau untuk main ke rumahnya.
Revi kemudian turun, membersihkan ruang tamu. Dan memasukan beberapa botol berisi air minum ke dalam lemari es. Kakinya bergerak lincah, membawa tubuhnya berkeliling rumah. Tangannya bergerak aktif, merapihkan dan membersihkan.
Hatinya bahagia, riang tak terkira.

==========
Mang, maen ga?
Rian melirik notifikasi HP nya. Hmmm, DotA ama Udin ato Revi? Batin Rian. Walaupun otaknya memberi penjelasan, bahwa antara Udin dan Revi sudah jelas mana yang harus dia pilih.
Rian masih di kamar mandi, sisa-sisa sperma masih menempel di tembok kamar mandi. Merenung beberapa saat, dan akhirnya dia menyimpan HP nya dekat jendela. Mandi, satu tujuan. Revi.

==========
Ini aja Mas, kan lucu. Kaya Ima?
Hahaha, kamu emang lucu Ma, tapi ini jauh dari lucu.
Yaaa, masa mau nonton action lagi, kemaren kan udah nonton action Mas.
Heheh, iya, nonton action dan diakhiri dengan action kita.
Ih, naon sih.
Ya itu, hahaha, enak kan?

Gio bertanya sesuatu yang sudah jelas, wajah Ima merona merah. Dengan kulit yang putih, merahnya kulit Ima seperti udang terbakar.
Hm, ato dari pada nonton, kita, hmmm, maen aja yu?
Maen apaan Mas? Tanya Ima menggoda.
Gio tidak menjawab, melainkan dia mendorong Ima masuk kembali ke kamar Ima.
Serius Mas? Ima kan udah dandan gini?
Serius. Ucapan Gio diakhiri dengan lumatan bibirnya pada bibir Ima. Menghisapnya dengan rakus, tangannya sendiri sudah meremasi kedua buah dada Ima silih berganti.

Mas, mmmmppphh, masih pagiiihh, ah, masih jam sembilann.
biarin, semakin pagi, semakin lama kita maen. Gio melepaskan ciumannya, namun tangannya kini melepas satu persatu kancing kemeja Ima. Dan mumpung rumah kamu kosong.
Deg, Ima baru sadar, keluarganya yang lain barusan pergi ke rumah neneknya. Habis deh Ima kalo gini.
Mau Mas abisin?

Ima hanya tersenyum, mengangguk. Gio lalu memboyong Ima yang sudah bertelanjang dada ke kasur. Tak sabar, Gio menghempaskan tubuh Ima ke atas kasur, buah dada Ima berguncang, kemudian Gio melepaskan semua pakaiannya, hingga bertelanjang bulat, penisnya sudah sangat keras berdiri. Isep yang.
Ima kemudian mengarahkan mulut mungilnya ke penis Gio, menciuminyea, menjilatinya beberapa saat sebelum memasukkan seluruh penis itu ke dalam mulutnya. Ima memulai proses oral yang saat ini menjadi kegiatan rutin jika mereka bertemu.
Aaahhh, enak Ma, akh, ya, gitu, haaaa….. Emutan Ima membuat Gio blingsatan tak karuan, merasa tidak kuat, Gio menghentikan isapan Ima, dicabutnya penis itu dari mulut Ima. Ima kemudian mengusap mulutnya, membersihkan sisa-sisa air liur.

Gio kembali mencium bibir Ima, rakus. Tangannya bergerak lincah, membuka kancing celana jeans Ima, lalu dengan tak sabaran, membuka celana Ima dan dilanjut dengan melepas CD nya. Ima pun kini bertelanjang bulat, hanya jilbab pink nya yang masih membalut kepalanya.
Aaahhh, ssssss….. Mendesah, Ima merasakan nikmat yang luar biasa kala mulut Gio mulai menjelajahi vagina Ima, lidah Gio melesak memasuki lubang surgawi Ima, merasakan dinding-dinding vagina yang basah.

Masssss,,, aaahhhhhh. Tubuh Ima sudah bergerak tak karuan, kala lidah Gio terkadang menjilati klitorisnya, bahnkan kini, jari-jari Gio turut mempermainkan klitorisnya. Sementara jari tengah tangan kiri Gio mulai memasuki vagina Ima, membantu lidahnya yang masih bermain di sana.
Mas, Ima gak kuatt, geli Mass. Akh, gila, udah mau keluar lagiihhh, aaaahhhhh. Ima orgasme, badannya kejang untuk beberapa detik, kulit wajahnya teramat merah. Nafasnya ngos-ngosan.

Akh, hah hah, mas curanggg, ah, mas tadi mau keluar di cabut, giliran Ima aja harus ampe keluar.
Hahaha, abis Mas seneng kalo liat Ima keenakan, menggairahkan banget.
Idiih, apaan itu, keenakan. Eh, mau ngapain?
Lah, jelas lah, mau masukin ini. Sambil menunjuk penisnya, Gio mulai mengarahkan kepala penis yang sudah tegang itu ke arah vagina Ima. Ima mengambil nafas panjang, dan , Akh, aaahhhhhhh. Kala Gio langsung memasukkan penisnya ke dalam vagina Ima yang sudah sangat becek. Penis yang keras dan vagina Ima yang becek memudahkan penetrasi.

Akh, sempit banget sayang, memek kamu emang top banget.
Hah, hah, top, kaya apah ajaaa, ahh. Enak Mas, terus.
Gio menggenjot tubuh Ima dengan kecepatan tinggi, nafsunya sudah ada di ubun-ubun, dia ingin segera meraih puncak. Ah, ah, Ima, Mas mau keluarrrr.
Bareng masss, Ima juga, aaagg, sekarang Mas, gak kuaattt.
Ima orgasme duluan, tubuhnya kembali menekuk ke depan, Gio langsung menyambar buah dada kanan Ima, meremasnya sekuat tenaga, menambah sensasi orgasme yang dirasakan Ima, sambil tetap Gio menggenjot Ima, sampai satu menit kemudian, Gio mencabut penisnya, dan memuntahkan sperma yang banyak ke perut rata Ima yang putih mulus.

Hah hah hah, gila, enak banget. Lagi Ma.
Huh? Serius Mas. Mau langsung?
Iya, balikiin badannya sayang, mau coba DS.
Ima kemudian berbalik, menelungkup, Gio menarik pinggul Ima, sehingga pantatn Ima menungging, Gio berhenti sejenak, mengagumi pantat putih kekasihnya itu, kemudian memasukan jari tengahnya ke dalam vagina Ima.
Ahhhhh…
Siap ya Ma.
Ima hanya mengangguk, dan sedikit merintih ketika kembali, penis Gio yang masih keras itu menerobos masuk.

==========
Ketukan di pintu menyadarkan Revi dari tidurnya, Akhirnya. Berlari kecil menuruni tangga dan membuka pintu, senyumnya merekah, manis. Dihadapannya Rian berdiri, tersenyum.
Hai, masuk.
Hm, sepi banget Vi.
Pake komen, pan udah tau lagi pada ke Jakarta.
Si Kaka juga?
He em.
Rian duduk disalah satu kursi, matanya tertuju kepada Revi. Bidadari ini cantik sekali. Padahal Revi hanya mengenakan kaos tipis tangan panjang dan rok. Jilbabnya pun jilbab langsung pakai biasa. Namun BH Revi tercetak jelas, hitam.
Ayo, liat apa?
Liat BH, eh, anu itu…
Hahaha, iih, Rian, jorok ya, gak sopan. Namun jelas, Revi tidak marah, malah senang.
Iya deh, liat BH, abisnya itu baju tipis banget.
Hehe, sengaja. Mau liat dalemnya?
Cleguk, Rian menelan ludah. Pertahanannya bobol, dia langsung berdiri dan memeluk Revi. Bibirnya menemukan bibir Revi, saling melumat dan menggigit.
Pintunya Vi.

Hahaha, iya, kamu juga, maen nyosor aja. Revi bergegas menutup pintu. Rian sendiri langsung membuka jaket yang dia kenakan. Revi langsung menghampiri Rian, keduanya kembali berciuman.
Udah lama banget pengen ngerasain ini bibir Vi.
Mmm, slurpp, iya gitu?
He emmmm.
Kenapah, ah, gak dari dulu?
Ada yang lain di sisi kamu.
Aaaahhhh, Riannnnnnn. Ah, pelannnn. Revi menjerit pendek kala dengan gemas dan kerasnya, Rian meremas buah dada kanan Revi.
Ke kamar Vi?
Hah, kamar Revi?
Bukan, kamar mamah dan papah Revi. Kamar kamu lah. Ayo.
Hm, abis ini mah.
Hayu.”

Rian mememeluk Revi dari belakang, tangan kirinya meremasi buah dada Revi, masih dari luar baju tipis yang Revi kenakan, namun tangan kanan Rian sudah berada didalam baju Revi, langsung menyentuh kulit Revi yang putih mulus, langsung memilin-nilin puting Revi yang masih kecil dan imut. Sementara badannya mendorong badan Revi untuk segera menaiki tangga menuju kamar Revi.

——bersambung——

Author: 

Related Posts